Senin, 18 April 2016

Program Hamil

Hah? Baru 3 bulan nikah udah program hamil? ya gitulah. Dari aku gadis dulu, sejak kuliah, siklus mentruasiku acak kadut. Bisa 2-3 bulan sekali. Udah pernah sih ngadep ke dokter, waktu itu dibilangnya masalah hormonal. Aku sudah bilang mama juga sih, bilang katanya ke dokter aja.
Pas aku kerja, di Jambi, aku baru mulai curious dengan keadaanku. Soalnya udah pegang uang sendiri, jadi lebih leluasa aja kali ya pas mo konsultasi ke dokternya. Dan diganti kantor juga sih, Alhamdulillah.
Waktu itu ke Rumah sakit khusus melahirkan, tapi aku gak sebut merk..😀 sebutlah Dokter A, perempuan. Dikasih obat cyclo progynova,  Diminum setiap hari selama 30 hari, setelah habis selang beberapa hari dateng deh menstruasi. Sampe dua strip aku minum kemudian aku berhenti, pengen lihat apakah si mestruasi bisa normal di siklus ke-3,ternyata nggak. Aku ilfeel. Soalnya aku kan gak suka obat ya. Ini udah rajin minum obat, masih aja blm normal. #gak sabaran. hehehe
Kemudian beralih ke dokter R, di rumah sakit Islam, masih di Jambi. Sama si dokter itu disuruh test lab, yang mahal bangettttt (sejuta lebih)… tapi sayang hasil labnya gak aku simpen. Si Dokter cuma kasih obat cyclo lagi (LAGI???) aku males. Udah dikasih jadwal konsul, tapi akunya masih ogah gitu. Akhirnya terpaksa konsul lagi, eh malah kena ceramah. Si dokter ini emang terkenal suka pedes omongannya. huh, aku males lah.
Pas Mudik ke depok, aku sempetin ke hermina depok, di situ aku ditest dll, dan aku dicurigai PCOS. Tapi belum pasti karena untuk menentukan seseorang PCOS atau bukan, banyak sekali test yang harus dilakukan. Sedangkan aku masih gadis, jadi blm bisa dibilang PCOS atau bukan.
oke, aku masih terlalu muda untuk tau apa itu PCOS. haha. Tapi si dokter bilang gini, “nanti kalo nikah, langsung program hamil ya?” ya, I was very young saat itu, umur 24 kalo gak salah. YOUNG darimana? entah😀
Ulasan lengkap tentang PCOS bisa dilihat di sini. <– Bahasanya mudah mengerti.
Dan berhubung aku baru nikahnya umur 30 tahun, aku jadi tambah deg2an. Alhamdulillah seminggu nikah, suamiku langsung aku boyong ke Dokter Sofani, SPOG di RS Mitra Keluarga Depok. Sebenarnya aku mau kasih tau dari saat ta’aruf masalah ku ini ke calon suami, karena aku gak mau kemudian suami setelah menikah dan merasa tertipu. Tapi waktu itu guru ngaji bilang, gak usah karena masih bisa diobati.
Di dalam ruangan dokter sofani, aku dan suamiku mendengarkan penjelasan tentang PCOS yang kemudian aku idap. Selepas dari ruangan, suamiku diam saja. Aku tau dia syok. Aku merasa bersalah. Kemudian aku tanya, “Maaf ya…”, dia bilang, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”. Masya Allah. Emang enak ya punya suami ngerti agama. Gak bikin pusing.
Oiya, dokter sofani ngasih aku profera untuk diminum selama 10 hari. Dan nyuruh  aku test hormon, LH, FSH, Proklaktin, estradiol dan gula darah puasa di hari ke-3 menstruasi.
Hasil lab sudah ditangan dokter sofani seminggu kemudian, tanpa USG Transvaginal, dokter sofani keren bgt, dan kemudian saya resmi jadi pasien PCOS. LH nya terlalu tinggi, seharusnya FSH lebih tinggi daripada LH. Kemudian dokter sofani kasih 2 opsi, satu obat2an, itu ditempuh selama 6 bulan dengan resiko mual dan berat badan naik dan tentu saja belum tentu berhasil. Opsi kedua, adalah operasi LO (laparoscopy) dengan tindakan ovarian drilling. Dokter sofani menyarankan pilihan kedua, karena menurutnya lebih safe buat saya yang emang lagi dikejar umur (well, I am 30 menuju 31!). Oiya dokter sofani PUN memberikan saya cyclo progynova untuk diminum 3x siklus. #nocomment
Konsultasi ke suami, dan ternyata suami maunya alami dulu. ALhamdulillah. Maklum baru sebulan nikah. Suami saya ini luar biasa! Namun kami akan terus monitoring dan konsultasi ke dokter.
Saya coba cari second opinion ke Dokter Obgyn di R.S Hermina Depok, karena waktu itu saya buru2 maka pilihan jatuh pada dokter Endang yang memang jadwalnya praktek. Saya pilih beliau karena saya maunya dokter obgynt perempuan. Saya bawa hasil test lab saya ke beliau, dan dilakukan USG-T dan ternyata beliau tidak menyarankan saya operasi LO. Karena tingkat keberhasilannya juga “hanya” 80%. Sayapun diberikan primolut dan profertil. Saya diminta menurunkan berat badan sekitar 10%. Saya mulai rajin minum juice 3 diva dan minum obat vitex, royal jelly dan minyak ikan salmon. Eh tapi saya malah kemudian sakit DBD, mungkin karena kecapean harus bolak balik Jakarta- Palembang – Jambi – Jakarta dan asupan gizinya kurang, Maka saya berhenti diet. Atas ijin suami.
Sehabis DBD saya sembuh, saya sempat dikuret karena darah menstruasi nya sangat banyak sekali dan darahnya menggumpal2, takut ada apa2, sang dokterpun menyarankan dilakukan kuretasi untuk dilakukan diagnosa. Takutnya ditemukan kanker. Alhamdulillah hasilnya bagus, lagi2 hormonal saja. Pantesan aku suka labil ya, ternyata masalahnya di hormonal.😀
Ada cerita lucu sebelum saya terkena DBD, jadi sebelum di test darahnya badan saya pegal semua kan, terutama bagian pinggul, saya sudah PD saja kalau saya hamil sampai beli banyak test pack. Dan ada banyak tanda – tanda lain. Tapi ternyata netif… hehehe.. ternyata malah DBD. 

Sabtu, 13 Februari 2016

Kue manis

Resep dari FB
BAHAN :
500 gram Tepung serba guna /All Purpose Flour (segitiga biru , gunung bromo(Bogasari) , beruang biru )
4 sendok makan gula pasir
2 sendok makan yeast/Fermipan/Ragi instan
1/2 Sendok teh Garam
250 ml Susu segar
2 Butir Telor
80 gram Butter /6 sendok makan Margarin 
*"2 PUTIH TELOR UNTUK OLESAN*"



CARA2 MENGOLAHNYA : 
1. Cairkan Butter /Margarin dengan api kecil .setelah butter/Margarin cair segera MATIKAN API .
2. Tuang SUSU kedalam butter/Margarin cair Tadi .Dan aduk Rata 
4. MASUKKAN GULA PASIR Dan aduk rata sampai gulanya meleleh cair .
5 . Masukkan TELOR Dan di aduk rata .
6. Masukkan FERMIPAN/YEAST/RAGI instan .aduk semuanya hingga rata .Tutup pancinya supaya FERMIPAN /YEAST/RAGI instan aktif .kira2 5_ 10 menit .
7. Masukkan TEPUNG yang telah diayak bersama garam .Dan aduk Rata . Cukup diaduk pakai centong/sendok kayu .tidak perlu diuleni . Kemudian Tutupi pancinya /gunakan kain lembab untuk menutupnya .Dan biarkan selama 1 jam .

Kamis, 11 Februari 2016

[Resep] Empal Gepuk Daging Sapi


Berencana mau ke Jambi Bulan Januari kemarin, aku masakin makanan yang super enak khas sunda buat suami tercinta. Setelah browsing2, pilihanku jatuh pada Masakan Empal Daging yang manis-manis gurih. Dan ternyata abang suka banget. "Masakan neng apa aja juga suka." yah, dia mah gitu orangnya.

Aku nyobain resep empal daging yg direkomendasiin sama sobatku di kantor. Tapi jintan hitam dan parutan kelapanya nya gak beliii... gak ada di supermarket tempat aku belanja. 

Resep dapat di http://www.justtryandtaste.com/2013/07/empal-gepuk-daging-sapi.html

Bahan:
- 1 kg daging sapi, potong-potong melintang serat dengan ukuran besar
- 90 ml santan kental instant (saya pakai santan sachet)
- 3 sendok makan parutan kelapa, sangrai hingga kecoklatan, haluskan <-- gak pake
- 1 liter air untuk merebus daging

Bumbu dihaluskan:
- 8 butir bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 5 butir kemiri sangrai
- 1 sendok makan ketumbar, sangrai
- 1/4 sendok teh jintan, sangrai bersama ketumbar <-- gak pake
- 1/2 sendok teh merica butiran
- 2 ruas jahe
- 1 ruas kunyit
- 2 ruas lengkuas
- 1 batang serai, ambil bagian putihnya

Senin, 08 Februari 2016

Demam Berdarah Dengue

Sepulang dari Dinas ke Palembang (sempat mampir Jambi juga), tiba-tiba aja malam Jum'at tanggal 28 Januari, saya merasakan badan saya ngilu semuanya. Demam. Namun hari Jum'at nya saya memaksakan diri masuk ke kantor, dengan mengendarai mobil sendiri. Baru kali ini saya demam gak ilang-ilang. Sesampai di kantor saya minum spirulina 2 biji per 1 jam, selama 3 jam. Demam dan ngilu malah semakin jadi. Kaki saya sulit sekali melangkah. Wajah saya pucat. Jam istirahat siang kemudian saya segera meluncur ke kost yang memang dekat kantor untuk tidur sejenak. Saya pikir saya akan baikan, ternyata tidak.
Terpaksa sorenya saya menghubungi teman kantor untuk mengantarkan tas saya ke kos, dan setelah menenggak beberapa sendok madu, saya kembali membawa kendaraan saya pulang ke rumah orang tua di Depok.
Sampai di rumah saya cuma diam saja berselimut dan menggigil. Sendirian. Kemudian ayah saya pulang dan terkejut melihat saya yang kayak kucing kesakitan. Mama yang kemudian jg sampai ke rumah langsung memberikan saya panad** obat menghilang rasa sakit kepala. Saya sudah beli obat itu sejak siang, namun idealis saya yang anti obat terkadang membuat saya tidak menyentuh obat2 tersebut. Ajaib saya merasa enakkan ke esokan paginya. Alhamdulillah.
Saya BBM suami, "Saya demam dari semalam.." dan sontak aja suami langsung telepon dan panik. Aduh, saya jadi ngerasa bersalah. Kondisi LDR seperti ini emang baiknya satu sama lain tidak saling membuat khawatir... Saya bilang abang jangan khawatir, kan di sini ada yang ngurus. Abang bilang, "Neng itu tanggung jawab abang."
Sampai sore badan saya enakkan banget setelah saya akhirnya memutuskan ke klinik. Suami menelepon lagi sorenya dan saya bilang saya baikkan.

Malamnya tidak dinyana saya demam lagi, kali ini saya benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Hanya air hangat yang bisa membuat saya baikan. dan mengeluarkan keringat panas. Esokannya saya bertekad buat ke dokter lagi dan test darah. Setelah bolak balik dari Klinik Kartika Timur dan Rumah Sakit Mitra Keluarga untuk cek darah, hasil leukosit dan trombosit saya kurang baik, namun dokter di klinik hanya meminta saya bed rest selama 3 hari. Oke, saya turuti. Surat dokter tersebutpun saya titip ke teman untuk dibawa ke kantor esokannya.

Masya Allah, malam senin, tubuh saya tak karuan. Semua obat dokter saya minum, gak ngaruh, spirulina, madu, air hangat, semuanya tidak ngaruh, Saya benar2 tidak bisa tidur dan ngilu semuanya. Saya memang pernah typus dan malaria, namun rasanya tidak seperti ini. Saya masih bisa tidur. Ini saya selera makanpun tidak ada. Saya BBM suami, bukan ngabarin saya sakit, saya cuma ngajakin ngobrol aja. Melepas kangen dan sekaligus berusaha mengalihkan rasa sakit saya.

Minggu, 07 Februari 2016

Laki-laki ini mengalihkan duniaku

Alhamdulillah, sudah menginjak minggu ke-4 berumah tangga.
Rasanya pengen segera 4 tahun.. loh…hehehe
Saya menikah di usia 30 tahun. Uhuy, pas bgt yak! Alhamdulillah angka 30 nya gak ampe pecah yah… #dih apaan sih
Saya lagi jatuh cinta, berkali2, pada orang yang sama. Banyak yang ngeledekin saya katanya “Mentang2 pengantin baru…” yang ngeledekin biasanya yang udah pada nikah lama, dalam hati aku, “Emang kalian gak ngerasain kayak gt jg sampe sekarang ya?” #dan kemudian aku terdiam.
Buat saya dunia saya sekarang warnanya PINK doang. ada warna2 lain mgkn, tapi cerah semua. Dan saya berdoa dengan segenap tenaga, agar selamanya seperti itu. Pink dan warna2 cerah lainnya. Dan kalopun ada warna gelap dateng, plis ya Allah.. jgn pake lama.
Oiya cerita sekilas tentang suami pujaan ini, beliau dan saya pernah berada di kota yang sama selama beberapa tahun, hingga beliau lanjut S2 ke India. Eh tapi kami sama sekali blm pernah kenal lho… sama sekali.
Kemudian saya meninggalkan kota tersebut pada bulan November, eh si Suami (waktu itu blm) ternyata sudah kembali Bulan agustus. Jadi selang 3 bulan gt lah. Dan saya sempat menghadiri pernikahan sahabat saya di kota tersebut pada Bulan November dan si bapak inni datang juga. Tapi tentu saja kami sama sekali blm saling mengenal.
Murobbiyah saya yang di Jambi yang memproses kami. Walau saya sudah pindah ke Jakarta, namun saya dan murobbiyah saya masih intens ngobrolnya. Via BBM. Hampir menginjak satu tahun kepindahan saya, sang murobbiyah bilang kalau ada yang mau ta’aruf sama saya. Biodata saya sdh dipegang oleh ikhwannya tersebut. Saat itu rasanya deg2an banget lho. Karena jujur saja, saya sudah berada di titik kepasrahan untuk bertemu jodoh. Benar2 saya sempat bilang H-2 hari itu, “Ya Allah, saya pasrah siapapun jodoh saya dan kapan ketemunya. Saya yakin Engkau telah mengaturnya dengan tepat.” Sayanya sempet ngerasa ragu sedikiittt sih, seddiiiikittt doang. Karena masalah jarak. Tapi Alhamdulillah bisa terlewati dengan banyak2 berdoa dan beristighfar.
Saya butuh waktu 2 minggu untuk kemudian ta’aruf dengan beliau didampingi oleh Murobbiyah saya dan suaminya dan juga Murobbi sang Ikhwan. Waktu itu… rasanya blank. Tapi saya sudah punya sederet pertanyaan buat diajukan. hehehe. Ah tapi saya ternyata mati gaya, saat sang ikhwan ini lebih banyak diamnya. huhuhuu…. Ya kali saya yang nanya mulu. Emang sih saya bawel, tapi bawel di saat ta’aruf saya rasa terlalu dini deh.
Selang 2 hari dari ta’aruf saya dikabarin sama murobbi kalo minggu depannya si ikhwan mau khitbah. Degh! Ini beneran?? duh, saya benar2 merasa kayak mimpiiii. Emak, anaknya akhirnya ada juga yang mau ngelamar! hehe
Alhamdulillah proses khitbah berjalan lancar walaupun si ikhwan harus menempuh perjalanan panjang disertai delay oleh maskapai merah yang pastinya melelahkan. Apalagi calon mertua berangkat dari Kerinci. Ama adekku ampe diledekin, “Akhirnya ada yang ngelamar juga” hahaha… yah maklum dari 4 bersaudara cuma saya aja yang belum nikah. Si adek malah udah duluan dan udah pny anak satu.
Persiapan walimahan pun dilakukan. Sesuai prosedur di pengajian kami, saya dan calon suami blm boleh berinteraksi secara langsung. Semua pertanyaan via murobbi, baik dari saya ataupun dari ikhwannya. Aneh ya. Iya dulu saya juga ngerasa gt. Tapi ternyata nyaman bgt lho. Saya bisa menanyakan apapun sama ikhwannya via murobbi tnp sungkan. begitupun sebaliknya. eh tapi ikhwannya ampir gak pernah nanya deh…hihihi. ini kenapa pendiam bgt yak. fyi, sejak ta’aruf sampe khitbah ikhwannya ampir gak pernah melihat ke saya. Paling ngelirik bentar doang. Dih beneran aja deh ni ikhwan….. ya bagus sih bagus. Tapi…. beneran masih ada ikhwan kayak begini? #akhwat yang su’udzhonan ama pergaulan